Monday, July 31, 2006

After ugly duckling gets make over

..and then there is oneIn the last couple of years there are lots of tv programme about make overs. The results are amazing. Ugly duckling turns to swan. Although sometimes the results are a little bit too much for my liking.

Don't get me wrong, most of the time I have no problem about people improving their body. If it makes you happy and you got the means, just do it. But I do have problem about extreme surgery. I have problem with the doctors feeding the obsession of their patients for the sake of money. Just look what happened to Michael Jackson. Hideous.

As I said, the results on the shows are amazing to say the least. Perfect eye sight, perfect teeth (well, you know how I love to see those pearly smiles), perfect body complete with a boob job. Seems like a boob job is a must-have surgery in those shows. The patients' confidence seems elevated, they seem happier and more comfortable with their bodies. Good for them.

Then they go home, and the show ends there.

In my daily live, I've seen orthognathic surgical patients all the time. In fact I've been one myself. So I know first hand how a surgery can affect your life. Most of the time I heard good stories. Better looking, higher confidence, happier, feels like being able to tackle anything. But there are also some bad ones. Like the one that can't handle that he looks more handsome now after the surgery and he ended up at the loony house. Or the more devastating one, where the patient ended up killing himself after the surgery. Granted those two cases are extreme cases and if I'm not mistaken they had some psychological problem to begin with. However, it shows that not all make over ends well.

The thing is, the orthognathic preparation before the surgery was longer than the preparation of those people on those shows had. Some of orthognathic patients need about two years of wearing braces, which also altered their appearance gradually. They and the people around them have time to adjust with the idea of having their face (slightly) altered after the surgery, unlike those on the make over shows. Sure, the producers of the shows would say that there are psychological assessment beforehand, and psychological sessions during the whole process. But is it enough?

I wonder once those lucky people of the shows got home, would their relationship getting better or worse? As one person changes so much (both physical and attitude) in such short period of time, who knows how the others would react. I guess in the beginning everyone is excited and happy. How does it goes in the longer term? Wouldn't you want to see how they are in, say, two years, maybe in another show? I sincerely hope that their relationship still works afterwards.

Thursday, July 27, 2006

Akankah pemerintah belajar?

Knowledge is power
- Sir Francis Bacon, 1597
Delapan belas bulan yang lalu Indonesia mengalami musibah tsunami yang amat besar. Ratusan ribu orang tewas, infrastuktur hancur. Ketika itu salah satu masalahnya adalah orang tidak tau apa dan bagaimana tsunami terjadi. Setelah gempa terjadi, ketika laut tampak surut justru banyak orang yang berjalan ke pantai. Dan tersapulah mereka oleh ombak yang datang bergulung.

Setelah itu pemerintah bersama negara² asing berupaya memasang pelampung (buoy) untuk mendeteksi terjadinya tsunami di Samudra Indonesia. Biayanya amat besar dan butuh waktu lama untuk semua alat terpasang, serta infrastruktur penyaluran informasi tertata rapih.

Delapan belas bulan yang lalu, saya menulis tentang tidak adanya pelatihan bagi rakyat di Indonesia tentang bahaya gempa bumi dan tsunami. Pelatihan seperti ini harusnya tidak memakan biaya sebanyak memasang sirene di sepanjang pantai di seluruh Indonesia. Tidak juga memakan biaya dan waktu yang lama seperti memasang buoy disepanjang perairan Indonesia. Tapi entah mengapa saya tidak mendengar opsi ini dilakukan di sana. Padahal hampir tiap minggu terjadi gempa yang cukup besar di salah satu bagian negeri ini.

Kejadian Tsunami di Pantai Selatan Jawa tanggal 19 lalu adalah bukti ketidak siapan pemerintah dan rakyat menghadapi bahaya alam ini. Berita bahwa ada kemungkinan terjadi tsunami yang diterima pemerintah 20 menit sebelum kejadian tidak diteruskan sampai ke rakyat. Bahkan ada kabar, ada pejabat yang memilih tidak memberitakan kemungkinan tsunami itu dengan alasan seandainya tidak terjadi maka beliau akan malu. Apa beliau tidak merasa malu dan berdosa sekarang?

Rakyat setempat yang setelah gempa pun kabarnya mempunyai ide bahwa baru akan terjadi tsunami dalam beberapa hari. Sehingga mereka kebanyakan tidak berusaha mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Minggu² ini, adalah awal anak kembali ke sekolah. Biasanya pelajaran belum berjalan penuh. Apa tidak bisa disisihkan barang 5 menit untuk mengajarkan apa yang harus dilakukan bila terjadi gempa? Hanya 5 menit, dan boleh dibilang tanpa biaya. Siapa tau 5 menit itu bisa menolong jiwa mereka dan orang di sekitarnya, seperti cerita Tilly bocah 10 tahun yang pernah menerima pelajaran tentang bagaimana terjadinya tsunami di sekolah dan dapat menyelamatkan banyak orang di Thailand saat terjadi tsunami tahun 2004.

Kapan ya pemerintah belajar dari sejarah? Katanya tidak ada rotan akarpun jadi.

Monday, July 24, 2006

Anti vaksin ala Indonesia

Bertahun yang lalu, saya membuat mailing list untuk pemerhati dan orang tua dari anak berbakat (gifted atau hoogbegaafd). Salah satu yang paling saya tidak bisa suka adalah bila orang main meneruskan email yang tidak jelas, apalagi bila email tersebut sudah sering berkeliaran di dunia maya. Seringkali alasannya karena mereka tidak bisa browsing sehingga tidak bisa mengecek kebenarannya. Tapi kadang alasan itu tidak bisa saya terima karena email yang sama sudah muncul beberapa minggu sebelumnya dan sudah dibahas.

Tiap mailing list mempunyai aturannya sendiri². Satu hal yang akan membuat anggota mailing list anakberbakat automatis kehilangan keanggotaannya adalah bila mereka mengirim email anti thimerosal karya Ines yang sudah wira wiri sejak Desember 2003 di dunia permilisan Indonesia. Cuplikan email itu sebagai berikut:

From: Ines Indrati Muljawan [mailto:inesim@...]
Sent: Wednesday, December 03, 2003 11:23 AM
To: aksek_tarakanita@yahoogroups.com
Subject: [milis tarki] Hati-hati Thimerosal dalam Vaksin

Setelah kesibukan Lebaran yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa
dapat waktu luang membaca buku "Children with Starving Brains"
karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan
oleh Grasindo. Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia
seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang,
sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa
mengidap Autisme Spectrum Disorder.
Karena kalimat awalnya berhubungan dengan Lebaran, maka selama bertahun-tahun setiap habis Lebaran mulailah email itu berkeliaran, harus dibahas lagi karena orang tua panik. BOSAN. Lebih baik membahas yang lain daripada mengulang² seperti piringan hitam rusak. Belum lagi konsekuensi dari kepanikan itu, banyak orang tua menolak anaknya divaksinasi. Akibatnya sekarang semakin banyak terjadi anak terkena penyakit menular seperti campak. Katanya mendingan kena campak daripada kena autis. Padahal campak bisa menyebabkan kematian.

Rupanya sejak sering dikomentari bahwa itu email lama dan bukan musim lebaran lagi, email diatas diupgrade pada bagian awalnya tapi sisanya sama persis walau nama Ines dihapus. Subyek email tersebut makin bombastis, dari Hati-hati Thimerosal dalam Vaksin menjadi Vaksin penyebab Autis. Contohnya sebagai berikut:
Subject: [Isi sendiri nama milisnya] Fw: Vaksin Penyebab Autis
Vaksin penyebab Autis

Buat para Pasangan MUDA. om dan tante yg punya keponakan... atau bahkan
calon ibu ... perlu nih dibaca ttg autisme.. Bisa di share kepada yang
masih punya anak kecil supaya ber-hati2........ Setelah kesibukan yang
menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku
"Children with Starving Brains" karangan Jaquelyn McCandless,MD yang
diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo.

Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,-
itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit
setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum
Disorder.

Saya bisa mengerti mengapa Ines menulis email tersebut, menurutnya Joey terkena autis karena vaksin berthimerosal. Efek thimerosal yang digunakan sebagai pengawet vaksin serta ada di tinta untuk tattoo masih belum banyak dipelajari. Hanya saja sampai sekarang masih belum diketahui penyebab autisme itu persisnya apa karena banyak faktor yang saling terkait. Tapi para ahli sepakat sebab utamanya genetis. Tentunya hal ini tidak ingin didengar oleh orang tua, karena kesannya mereka itu penyebab penderitaan anaknya. Jadi dicarilah kambing hitam: Vaksin. Yang harus diingat, dalam MMR, yang sering disalahkan sebagai penyebab autisme, tidak pernah digunakan thimerosal sebagai pengawet.

Untuk menyebut penyebab autisme adalah vaksin yang membuat orang panik menurut saya kelewatan. Bahkan cukup banyak study yang tidak bisa menunjukkan koneksi antara vaksin (terutama MMR) dengan autisme, salah satunya study di Canada yang baru dilansir awal Juli ini. Yang menarik, study di Yokohama, Jepang dan Denmark menunjukkan jumlah penderita Autisme meningkat biarpun vaksin disana sudah tidak menggunakan thimerosal dan tidak diberikan MMR.

Salah satu akibat dari kepanikan massa di Indonesia, sekarang banyak dokter yang tidak mau memberikan vaksin MMR tepat waktu ke anak yang telat bicara. Alasannya takut nantinya si anak autis , jadi ditunda sampai anak bisa bicara. Selain takut dibawa kepengadilan bila ternyata si anak betulan autis, padahal sebenarnya menurut Volmer mereka yang autis sudah tampak gejalanya sejak bayi jauh sebelum diberikan MMR. Sebetulnya praktek ini tidak sesuai dengan petunjuk satgas imunisasi Indonesia. Ironisnya petunjuk ini bahkan tidak diikuti oleh beberapa dedengkotnya sendiri. Dengan berkurangnya jumlah anak yang divaksinasi, maka kekebalan kelompok (herd immunity) pun turun yang artinya resiko anak tertular penyakit menular seperti polio, campak, semakin tinggi.

Sebetulnya gerakan anti vaksin ini tidak hanya di Indonesia, tapi di mana², terutama di Amerika. Hanya saja bedanya, di negara maju pelayanan dan fasilitas kesehatannya jauh lebih baik daripada di Indonesia. Begitu ada satu kasus meningitis misalnya, semua anak langsung di vaksin seperti yang terjadi di Inggris dan Belanda misalnya. Ingat apa yang terjadi di Indonesia beberapa saat lalu dengan wabah polio? Butuh waktu lama bagi pemerintah untuk melakukan imunisasi massal, itupun tidak semua anak tervaksinasi. Akibatnya penyakit seperti polio sulit diberantas.

Jadi tolong, kalau melihat email seperti di atas, jangan diteruskan karena cenderung menyesatkan. Gunakan cara lain untuk membuat pemerintah menyediakan vaksin gratis tanpa thimerosal, misalnya dengan menulis ke mediamassa, atau ke perwakilan anda di parlemen atau ke mentri Kesehatan. Sementara itu, bila takut menggunakan vaksin gratis dari pemerintah, belilah sendiri vaksin tanpa thimerosal. Banyak jalan menuju Roma, tanpa harus menciptakan panik massal.

Sunday, July 23, 2006

Nadine, Miss Universe & FPI

Unlike the guys at Tjelaan Rakjat, I've been avoiding saying something about Nadine Chandrawinata, Indonesian candidate for Miss Universe pageant this year. Mom said if you don't have anything nice to say, you'd better not saying anything.

However, after reading this news, I just can't keep my mouth shut. So Nadine wore a bikini during a photo shoot. I don't understand why people, and by people I mean FPI, need to make such a big deal out of it and took the matter to the police.

In the FPI's world, Nadine and her entourage are guilty of doing indecent act, and participating in an organization which involves in criminal act. Oh please! Saying that wearing a bikini as not conforming with Indonesian culture is just ridiculous. Which Indonesian culture are they talking about? There are some Indonesian tribes whose female members are still topless, while their male counterparts wear nothing but a penis sheath known as koteka. I remember growing up seeing Balinese women taking a bath openly, and some of them were topless all day. I know FPI said that wearing bikini is not Islamic, and Indonesia has the biggest Moslem population. What's that got to do with Nadine? I don't think Nadine is a Moslem and the last time I've checked, Indonesia is not an Islamic country. Come to think of it, check out Miss Egypt, as in Miss of the Arab Republic of Egypt, in all her glory.

Why do we have to make a rule for everyone that is based on one particular belief? And could you tell me what kind of criminal act did Nadine and her entourage do? The way I see it, all that she did was trying to help Indonesia getting some positive publicity. Something that is scarce these days with earthquakes, tsunamis, and bird flu hitting the news every other week.

And don't get me started about how Nadine friendship with Miss Israel hurting other Moslems. Would FPI said the same thing if Nadine befriended Miss Israel 1999, Rana Raslan, who is a Moslem Arab Israeli?

So there, I said my piece, I'd better shut.

Sunday, July 02, 2006

Mengapa..

... orang Indonesia kelihatan protes hanya bila ada hubungannya dengan Israel?

Buat saya aneh bila urusannya di nun jauh disana orang protes, sementara bom di Poso tidak kedengaran ada yang protes. Kalau mau protes tentang hal yang jauh juga, kenapa ngga pada protes saat orang saling bom di Irak?