Tuesday, January 24, 2006

Kalau dunia lebih dingin dari kulkas

Sebetulnya, musim dingin di Belanda tergolong mild, ringan. Selama sekian tahun saya di sini, yang namanya salju sih pasti turun, tapi lebih sering terbawa angin atau bercampur hujan dan menghilang daripada menumpuk di bumi. Jarang sekali salju sampai bertumpuk², apalagi di kota tempat saya tinggal yang posisinya lebih ke selatan. Kalau di utara sih lain ceritanya, memang selalu lebih dingin dan lebih mungkin tertimbun salju sampai putih di mana-mana.

Kadang saat dingin seperti hari ini saya rindu salju, karena saat salju turun rasanya lebih hangat daripada kalau hanya ada matahari bersinar cerah tapi dengan bonus angin. Dan namanya di Belanda, kalau tidak ada angin rasanya tidak afdol (sampai teman saya dari negara lain saja sering ngomel tentang urusan angin di sini). Padahal angin itu bikin rasa dingin itu berlipat².

Saya ingat pertama kali mengalami dingin yang menipu ini kira² setahun saya disini. Pagi² sebelum memilih baju saya melihat ramalan cuaca dulu, katanya sih suhu 3 derajat, jadi ya saya kira² sekian lapis akan membuat saya hangat. Tapi diluar rasanya dingin banget, asli salah kostum! Sampai dirumah, ramalan cuacanya ada tambahan: 'rasa' -7! IDIH! Bilang dong kalau bisa gitu, saya kan orang baru. Yang ada masuk angin lagi :(

Ambil contoh siang ini yang katanya sekitar 0 derajat di Utara dan anginnya katanya 3 sampai 4 Beaufort (5-7m/s), nah rasanya di badan akan seperti -3 atau -4. Sementara nanti malam suhunya sekitar -8 sampai -10 yang dengan kecepatan angin yang sama rasanya akan seperti -14 sampai -17 saja. Untung ni malam ngga ada janji kemana².

Beberapa hari ini jatah Belanda sedang mendapat jengukan benda bulat terang di langit yang kadang saya lupa namanya saking jarang keliatan. Kalau melihat dari balik jendela kesannya hari² ini indah, langit biru dan cerah ceria enak buat keluyuran, tapi jangan salah... berdasarkan pengalaman berkali² (dan terakhir hari Sabtu lalu) salah kostum, justru kalau ada matahari bersinar cerah udara lebih dingin. Apalagi sejak akhir pekan lalu ada transportkou, dingin yang datang seiring dengan angin kencang dari Rusia (karena tekanan udara tinggi atas Rusia/Siberia, dan tekanan rendah di Eropa bagian selatan), sampai di negara bawah laut ini.

Menurut KNMI, lembaga meteorologi Belanda, terakhir ada transportkou adalah sekitar 25 dan 26 Januari 1996 serta tahun baru 1996/1997 yang suhu rasanya sekitar -20 derajat saja.

Tapi orang sini kalau lagi dingin seperti ini banyak yang senang, apalagi mereka yang tergila² ice skating jarak jauh. Soalnya artinya ada kemungkinan ada lomba Elfstedentocht. Ini maraton ice skating sejak tahun 1909 diatas sungai beku yang melewati 11 kota di Friesland sepanjang 200Km-an, berawal dan berakhir di kota Leeuwarden. Berhubung yang ikutan 16000 orang, jadi hanya bisa dilakukan bisa benar² dingin dan tebal es di sungai itu minimal 25cm. Yang boleh ikut juga ngga sembarang orang, tapi hanya mereka yang anggota perhimpunan ice skating Friesland. Rakyat di sepanjang rute maraton biasanya turut berpartisipasi, membuka rumahnya bagi penonton, menyediakan minuman hangat dan bahkan membagi sup. Sesuatu yang berbeda dari kebiasaan Belanda yang perhitungan:)
Terakhir Elfstedentocht diadakan pada 4 januari 1997, karena sesudah itu tidak pernah lagi batas minimum ketebalan es tercapai. Melihat dinginnya alam saat ini, siapa tahu tahun ini akan ada Elfstedentocht lagi.

Asparagus & Prancis

Membaca tulisan Loucee tentang orang Prancis, saya tidak tahan untuk tidak menambah sedikit tulisan mengenai topik yang sama.

Selain terkenal dengan anggurnya, orang Prancis terkenal juga dengan makanannya. Salah satunya asparagus. Di Prancis, terutama di Argenteuil, asparagus ini ditanam dibawah tanah sehingga pertumbuhan klorofilnya terhambat. Asparagus putih ini terkenal keempukannya dan rasanya yang lembut.

Yang menarik, menurut penelitian yang di publikasi di British Journal of Clinical Pharmacology ternyata seluruh orang Prancis yang diuji tidak memiliki gen yang menghasilkan enzim yang dapat menghancurkan mercaptan, komponen sulfur yang ditemukan dalam asparagus. Akibatnya bisa ditebak: begitu mereka makan asparagus, kita akan tau. Sementara dari seluruh orang Inggris yang mereka uji, hanya 46% yang tidak bisa mencerna mercaptan.

Jadi, bersiaplah mencium bau²an alami selama musim asparagus di Prancis :)

Tuesday, January 17, 2006

Word of the week 3

Kotodama is Japanese for the spirit of words.
Therefore be careful of what you are saying, as speaking can change the world.

Monday, January 16, 2006

Nilai sebuah doa


Jaman masih sekolah berseragam dulu, saya wajib mengikuti pelajaran agama, yang terus terang saja bukan sesuatu yang saya suka. Saya ingat, diantara day dreaming saya selama mengikuti pelajaran, bagaimana kami diajarkan membuat doa yang baik. Persisnya apa, saya lupa. Tapi kalau tidak salah, harus diawali dengan pujian terhadap Tuhan, mengajukan permohonan, berterima kasih dan penutup yang tentunya pujian juga.

Minggu berikutnya ketika ulangan, saya hanya mampu membuat doa sekian baris, dengan segala yang diminta saya cantumkan: pujian, permohonan, terima kasih serta penutup. Hasilnya saya dapat angka 4. Untung, ketika itu guru agama saya ada dua, yang satunya lebih menekankan ke etik, yang saya suka dan masih sanggup mencapai hasil baik, jadi angka agama saya tidak merah di rapor.

Lucu ya, murid diuji membuat doa, sesuatu yang amat personal.

Saya kemudian tidak pernah memikirkan bagaimana membuat doa yang baik sampai saya membaca kolom Rabbi Gellman yang menurut saya lebih mengena daripada ilmu guru saya tadi. Rabbi Gellman tidak memusingkan apa yang harus ada dalam sebuah doa, tapi inti dari jenis doa itu sendiri yang ia singkat menjadi: Thanks, Gimmie, Oops and Wow! Yang paling menarik dari tulisannya ada dibagian penutup berupa sebuah doa seorang prajurit konfederasi yang dikutip oleh Wayne Dosick dalam bukunya 'When Life Hurts':

I asked God for strength, that I might achieve; I was made weak, that I might learn to humbly obey.
I asked for health, that I might do greater things; I was given infirmity, that I might do better things.
I asked for riches, that I might be happy; I was given poverty, that I might be wise.
I asked for power, that I might have the praise of men; I was given weakness, that I might feel the need for God.
I asked for all things, that I might enjoy life; I was given life, that I might enjoy all things.
I got nothing that I asked for, but everything I had hoped for.
Almost despite myself, my unspoken prayers were answered.
I am, among all, most richly blessed.

Menurut saya doa di atas amat indah. Tapi terbersit pertanyaan, jika guru saya melihatnya, akan diberi nilai berapa doa yang tidak mengikuti pakemnya ini?

Wednesday, January 11, 2006

BH: 36C vs 38B, enak yang mana?

Biarpun saya perempuan, saya suka memperhatikan perempuan lain, terutama urusan payudara yang bentuknya macam² itu. Bukan apa², kalau saya perhatikan banyak perempuan yang menggunakan BH yang salah ukurannya.

Belum lagi mereka yang mempunyai payudara yang sudah melorot, yang sampai² pensil pun tidak akan jatuh bila terjepit dibawah payudaranya, tapi masih dengan nekatnya tidak menggunakan BH. Alhasil jatuhnya baju yang ia kenakan pun tidak cantik.

Yang menggunakan ukuran badan terlalu kecil jadi timbul lipatan lemak di atas dan di bawah BH atau tali BH anda posisinya tidak sejajar lagi antara yang dibagian depan dan di bagian belakang (naik). Yang menggunakan ukuran cup terlalu kecil jadi kesannya payudaranya mau tumpah. Ada juga yang menggunakan cup terlalu besar sehingga kelihatan kopong. Entah ya.. mungkin memang itu efek yang dicari, tapi menurut saya, dan ini tentunya subyektif, tidak bagus dilihat.

Nah, coba dilihat apakah kalian, yang wanita tentunya karena saya tidak tahu ukuran BH pria yang katanya sudah mulai ada di pasaran, sudah menggunakan ukuran yang sesuai? Kalau ternyata tidak sesuai, atau curiga salah ukuran, mari kita cari ukuran yang benar.

Untuk mengukurnya anda membutuhkan meteran yang ada ukuran inci-nya dan tentunya alat tulis beserta kertas untuk mencatatnya. Sebaiknya anda menggunakan BH yang paling nyaman dipakai.

1. Ukuran badan dan ukuran BH
Dulu saya suka tertawa mendengar teman² pria saya berkomentar tentang payudara mana yang besar. Mereka mengira ukuran BH adalah patokan besarnya payudara. Padahal ukuran BH yang kita kenal (32,34, 36, dll) sebenarnya adalah ukuran lingkar badan. Jadi boleh dibilang semakin besar kerangka badan (dan semakin banyak daging/lemaknya) maka semakin besar ukuran BHnya.

Cara mengukurnya adalah dengan melingkari badan anda persis dibawah payudara. Ingat, yang harus diukur adalah BADAN, bukan payudara! Nah, ukuran dalam inci yang telah didapat harus ditambah 5 untuk mendapat ukuran BH. Bila hasil akhirnya ganjil, maka harus dibulatkan ke bilangan genap karena semua BH ukurannya selalu genap. Jadi bila ukuran dadanya 28 inci, maka ukuran BH anda 34 karena tidak ada BH berukuran 33.

2. Ukuran payudara dan ukuran cup
Pengukuran terakhir yang harus dilakukan adalah mengukur payudara itu sendiri. Lingkari badan dengan meteran kira² posisinya sama dengan posisi puting. Ukuran yang didapat harus dikurangi dengan ukuran bh untuk mendapatkan ukuran cup. Kemudian dari selisih yang didapat bisa ditentukan ukuran cup yang sesuai.

Selisih: Cup
0 - 1/2 inci: AA
1/2 - 1 inci: A
1 - 2 1/2 inci: B
2 1/2 - 3 1/2 inci C
3 1/2 - 4 1/2 inci: D
4 1/2 - 6 inci: DD (E)
6 - 7 inci: DDD (F)


Bila ukuran payudara anda 35 inci, maka bila kita gunakan contoh diatas sebagai ukuran badan, ukuran cup anda B. Jadi ukuranBH yang sebaiknya dibeli adalah 34B. Tapi bila anda merasa ukuran 32 C lebih enak dipakai, tidak ada yang melarang anda memakainya.

Satu hal yang perlu diingat, ukuran diatas (34B) adalah ukuran BH Amerika, yang berbeda dengan ukuran BH Eropa (90C), Inggris (34C) atau Australia (12B). Untuk amannya, ingat saja ukuran internasional (75C) yang selalu ada di label.
UKURAN BH
USA : Internasional
32: 70
34: 75
36: 80
38: 85
40: 90


UKURAN CUP
USA : Internasional
AA: A
A: B
B: C
C: D
D: DD
DD: E


Yang juga perlu diingat, bila hari ini ukuran BH anda X, bukan berarti dalam 1 tahun mendatang ukuran yang sama masih berlaku. Perubahan berat badan, kehamilan & menyusui dapat merubah ukuran BH anda. Jadi coba melakukan pengukuran dari waktu ke waktu.

Tuesday, January 10, 2006

From one science to the next

I heard about this story during one of the discourses given by S.N. Goenka.

On board of a big ship a simple old man met a young professor and they started to have conversations along the journey. Every night the man came to the professor's cabin, trying to learn something from the learned man.

On the first night, the professor asked, 'Old man, do you know what Geology is?' 'Oh, Professor Sir, I never went to school, I know nothing about Geology. Could you tell me what it is?' reply the man.
'Oh, poor old man, you don’t know what geology is. It's the science of the earth. You’ve wasted a quarter of your life.' said the professor.
The old man felt so sad, if the professor said that he wasted a quarter of his life than it must be true.

On the second night, the two men met again and the professor asked: ‘Old man, do you know what Oceanology is?' 'Professor Sir, I am just a simple man, I don’t know that Oceanology is. What is that sir?' replied the old man. And the professor said: 'Oh, poor old man, you don’t know what oceanology is. We are sailing and you don’t know the science of the sea. You’ve wasted half of your life.' The old man felt so sad, so incredibly sad, he just found out that he wasted half of his life.

On the third night, still eager to learn, the old man came to the professor's cabin and was asked: ‘Old man, do you know what Meteorology is?' 'Professor Sir, you know I am just a simple man, I don’t know that Meteorology is.' reply the old man. 'Oh, poor old man, you don’t know what geology is; you also don’t know what oceanology is. And now you don’t know what meteorology is. It's the science of the sky and the weather. You’ve wasted three quarter of your life,' said the professor. The old man felt so sad, so incredibly sad, he just found out that he wasted three quarter of his life.

On the fourth night, the old man ran into the professor and start asking: 'Professor Sir, Professor Sir, do you know swimmology?' ‘Old man, I know a lot of things, but I've never heard of swimmology. What is that?’ replied the professor. ‘Do you know how to swim, Sir?' Asked the old man. ‘To swim? I didn’t have time to learn how to swim; I was busy learning other things. I can’t swim,’ said the professor.‘Oh poor professor, you've wasted all of your life. If you had known swimmology, you could have swim to the shore because the ship is sinking now.’ said the old man.

Moral of the story: find out yourself ;)

Thursday, January 05, 2006

Walking the path..

Sabbe sankhara anicca'ti;
yada pannaya passati,
atha nibbindati dukkhe
--esa maggo visuddhiya.
Dhammapada, XX. 5(277).

"Impermanent are all compound things."
When one perceives this with true insight,
then one becomes detached from suffering;
this is the path of purification.


I just spent the best and also the hardest 10 days of my life. And all I did was breathing. Well, not just mere breathing actually, I did my first Vipassana sitting.

Vipassana means 'to see things as they really are, by going beyond apparent truth'. It is one of India's most ancient meditation techniques with the goal to reach full enlightenment and total liberation. In a way, Vipassana helps transforming sense of self by feeling the self. You learn how to purify yourself. It started by observing your own breathing and keeping your mind in equanimity, in the right disposition without aversion or attachment towards any sensations. Sounds easy right? How I wish it was that easy!

During the course that lasted for 10 days, I felt like I was part of mixed of movies: The Matrix, some Shaolin movies, and Bollywood ones. The thing was, during the course you had to live like a Buddhist monk. You lived out of charity of others, observed noble silence (no communication except with the teacher and manager, no reading nor writing) and also followed the sila - (8) moral conducts. Since the teacher, S.N. Goenka, a Burmese with Indian descendant, sometimes recites passages in Pali, somehow I felt like I was part of one of Bollywood movies. Now, where did the Matrix part fit in? There's this scene where Neo talked about having that feeling that you are not sure if you are awake or still dreaming, mescaline; I had numbers of those feeling. And remember that scene where Morpheus said to Neo, 'I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it.'? Goenka-ji said the same thing!! Well alright, not exactly the same, but the gist is the same. He is only there to show us the path; we have to walk on it. One has to fight his own battle and work out his own salvation. Sure you got help and support along the way, but you just have to do the hard work yourself... all the way to liberation.

Before I did the course, for a chatterbox like yours truly, 10 days without speaking seems like a torture. I was and still am amazed that I did it rather well. Ok, I still talked to the manager and the teacher every now and then... and I have to confess that on the 8th day I talked to my roommate for about 10 minutes. It was during one of those breaks we had. I was up in my room, sitting up on the window's sill and looking down to the garden. I saw this guy came up to the picnic table and wrote down on the snow: NOBLE SILENCE. I just couldn't stop myself from laughing out loud and my roommates joined in. On the 10th day after they lifted the noble silence I had Verbal diarrhea:) Hey, I am still human!

Then there was this food problem. They only served simple vegetarian (almost vegan!) meals. Now, I've eaten less meat last year, but to think I have to eat 'Dutch' vegetarian meals... well, that's another story. Two years ago I said to my friend there's no way I could've survived those meals. Imagine my own surprise; I actually was able to enjoy some of the meals!! Hmm.. Except on the 6th day when they fed us the so-called 'Indonesian Gado-gado' as comfort food. Man, it was so far removed from the real thing! I mean I am not a kitchen princess, but at least I know that you don't put ginger, cumin, nor carrot and leek in the real Gado-gado. Oh well, I guess beggar can't be choosy.

Didn't I say that it was hard work? The meditation itself was quite something. It's never been easy for me to sit still for a long period of time. Don't get me started about the pain, physical pain of doing Addhitanna, sitting with strong determination. The name says it all, right? It's an hour meditation without changing your posture drastically, so you keep your legs, hands as it is, and keep your eyes closed all the time. They say practice makes perfect. I'm far from perfection, but at least I suffer less and less pain as each day passes.

Having said all of the above things, I am glad I did it. I even think about doing it again in the future. Don't ask me when, but I am pretty sure I will do it again.

May all being be happy and liberated...

Sunday, January 01, 2006

Word(s) of the week 1

I am going to start this new year with some Pali words.
Pali is an ancient literary language from India. It is for example used to record the complete Tripitaka (sanskrit for Three Basket) or Tipitaka in Pali, a term for Buddhist scriptures.

Bhavatu sabba mangalam
May all beings be happy