Friday, December 03, 2004

Seragam atau tanpa seragam

Beberapa hari lalu, Sarah telefon curhat tentang anak perkumpulan pelajar RVSV yg dulu juga saya ikuti. Salah satu bahan omongan kita adalah kesukaan anak sini pakai baju seragam. Punya Jaarclub? Bikin seragam. Jaarclub mau jalan²? Bikin seragam. Dan biasanya mereka antusias banget, sementara kita² yang melayu udah kayak anak bawang cuma ngikut aja. Abis, mereka kan sepanjang sekolah sampai kuliah ngga ada seragam, jadi sampai punya seragam tuh gaya. Nah kalau kita kan dari TK sampai SMU, bahkan udah kuliah juga ada seragamnya. Lihat aja UI yang terkenal dengan yellow jacket-nya sampai ditiru sama uiversitas atau sekolah tinggi mana gitu.. kuningnya beda sih.

Kadang kalau liat anak² di kampung, apalagi anak kurang mampunya, kesian deh mereka harus usaha beli seragam. Masih ingat dulu mama suka membelikan buku, dan seragam untuk anak² kurang mampu. Bayangin aja, untuk buku tulis aja, ada kakak adik yg cuma punya satu, yes you heard me... ONE book for both of them! Jadi salah satu sekolah siang, sehingga buku yg tadi pagi dipakai bisa dipakai lagi. Kesian ya. Nah, yg kayak gini banyak lho. Kalau bagi mereka tidak diwajibkan beli sendiri seragamnya, alangkah baiknya.

Katanya, pemerintah sekarang sedang mencermati untuk menghapuskan seragam. Menurut saya tergantung sih dimana berlakunya. Kalau dikalangan seperti yg saya barusan cerita sih menolong mereka. Kalau sekolah swasta biasanya pelajarnya tidak seberagam seperti di sekolah negeri. Tapi kalau di sekolah negeri kan dari yang paling miskin sampai yg kaya raya tumplek jadi satu, tanpa seragam nyata benar kesenjangan itu. Kalau di kalangan menengah ke atas, lain lagi ceritanya. Jangankan antara the have and the have not, jurang antara the have and the have more aja bisa makin dalam kalau tanpa seragam. Lagi pula mereka kan mampu untuk beli seragam. Dulu saya suka merhatiin anak sekolah lain, mereka bajunya seragam, tapi sepatunya ngga. Aduh, ngeri deh liat yang pada jor²-an beli sepatu. Untungnya di sekolah saya sepatupun baik yang hitam maupun sepatu olah raga seragam, merknya nama sekolah saya:) Harganya murah, paling ngga jaman saya masih sekolah disana, kalau sekarang sih ngga tau. Hasilnya baik kita² yang naik bis, maupun yg (nyolong²) bawa mobil lux sendiri ngga tampak bedanya.

Memang sih, adanya seragam bisa nambah KKN, soalnya pengadaan seragam di sekolah kan bisnis. Kali musti kayak urusan perumahan, yang menang tender musti ada porsi untuk pengadaan seragam gratis bagi yang ngga mampu ya. Tapi pasti deh mark-upnya makin gede aja. sigh.

Tapi kalau mau jujur, ada enaknya pakai seragam, kalau pagi mau pergi tuh ngga mikir lagi musti baju yang mana ya... :)
Jadi inget dulu, cerita abis foto² pulang kuliah, tepat seminggu kemudian fotonya jadi. Ternyata hari itu (kalo ngga salah Jumat) kita semua pakai "seragam" soalnya bajunya sama kayak waktu pas bikin foto! Hahahaha. Rupanya gang-ku pada males mikir, jadi baju pun udah kayak seragam, hari senin pasangannya ini, selasa itu, dst. Herannya kompak lagi kayak gitu semua, padahal ngga janjian. Ah, jadi kangen sama anak² yang lucu² itu.

Thursday, December 02, 2004

Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Waktu SMP-SMA (yes, I am that old) di sekolahku ada pendidikan Kesehatan Reproduksi yang dibawakan oleh orang² dari keuskupan. Kirain pendidikan kayak gitu di mana² ada, taunya ngga semua sekolah memberikan. Namanya juga dari keuskupan, pesan sponsornya jelas ada tapi masih mending daripada tidak sama sekali.

Ketika sekolah bahasa, ada orang yg nyeletuk, 'jenis kelamin anak ditentukan oleh posisi'. Ya ampun, kalau orang yg katanya pinter bisa mikir kayak gini, gimana yg lain? Padahal dia itu pas SMA jurusannya ilmu eksakta lho, yang pastinya dapet pelajaran kalau perempuan itu ada kromosom XX sementara pria kromosom XY. Memang sih praktis di mana² tuh yang ada hubungannya dengan seks itu tabo. Kalau aku nanya ke temen² biasanya mereka tau ya karena nanya ke temennya (yg belum tentu ilmunya bener), soalnya dari orang tuanya ngga dapet. Makanya aku setuju banget kalau pendidikan kesehatan reproduksi wajib di berikan di sekolah supaya informasi yang diterima tuh yang benar.

Sebetulnya pendidikan kesehatan reproduksi tuh amat penting, ngga hanya membantu anak yang sedang akil balik dengan segala pertanyaannya, juga mereka yang akan menikah. Sayangnya, di negara beragama kayak Indonesia, orang cenderung konservatif. Sering pemuka agama, juga mereka yang mengaku moralis tidak setuju pendidikan kesehatan reproduksi diberikan. Alasannya pendidikan seperti itu membuat anak melakukan seks. Herannya, tiap hari anak dicekoki tayangan baik dari dalam maupun luar seperti (dulu) Melrose Place, the OC, segala rupa soapopera. Buat aku, ini koq informasi yang diterima berat sebelah.

Kalau kita lihat di Belanda dan Amerika, pendekatan kedua negara ini berbeda sekali, yang satu liberal satunya lagi konservatif. Sepanjang yang saya tau, sejak usia sekitar 9 tahun ada pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah Belanda. Bahkan ada yg bilang di beberapa sekolah anak² itu sudah diajarin gimana caranya pakai kondom! Hal ini menurut aku sih rada terlalu juga. Yang jelas, mereka diajari pentingnya alat kontrasepsi, safer sex or no sex. Hasilnya jumlah remaja hamil diluar nikah rendah, aborsi rendah, penyebaran penyakit kelamin (termasuk HIV/AIDS) juga cukup rendah. Memang sih akhir² ini jumlah aborsi kabarnya meningkat, tapi ternyata ini andil dari kaum pendatang. Dan ternyata usia pertama kali melakukan seks tidak lebih muda daripada lawannya di Amerika, begitu juga jumlah partnernya tidak berarti lebih banyak.

Di Amerika yang lebih 'beragama', pendidikan kesehatan reproduksi akhir² ini terbatas hanya pada no sex, alias abstinance. Menurut mereka itu yang terbaik. Memang sih tidak melakukan aktifitas seksual itu tidak membawa resiko apa². Masalahnya, tidak semua orang bertahan abstinance, dan bila mereka berhubungan seksual hal itu tidak dilakukan dengan aman. Akibatnya, penyebaran penyakit kelamin jauh lebih tinggi dari di Belanda, contohnya penyebaran Gonorrhea 74 kali lebih tinggi di kalangan remaja Amerika. Tingkat kehamilan remaja luar nikah bahkan lebih dari sembilan kali tingkat kehamilan remaja di Belanda. Hal yang sama juga tampak dari data tingkat aborsi di Amerika yang tujuh kali lebih tinggi daripada di Belanda.

Menurutku, situasi di Indonesia lebih mirip dengan di Amerika, anak sebisa mungkin tidak tau apa². Tapi kalau mendengar bahwa menurut survey di Indonesia tiap tahun terjadi aborsi sebanyak 2 juta kali, biarpun hanya 20%-nya dilakukan oleh remaja, rasanya pendidikan kesehatan reproduksi patut diberikan. Apalagi dengan UU Kesehatan yang menyatakan aborsi itu ilegal, bila terjadi kehamilan diluar nikah, orang akan pergi ke tempat aborsi ilegal yang pelayanan medisnya tidak terjamin. Daripada daripada, kan mendingan mendingan...

Batuk

Udah dari weekend lalu aku di rumah, uitzieken kata orang sini. 'Berjuang' (sedap bener tu kata) supaya sembuh krn selasa depan musti ke rumah sakit. Soalnya tiap kena dingin dikit, batuk (kering) berkali-kali sampai capek banget, leherku sakit. dan mulai kemaren mulai pilek. Sementara di luar suhunya cuma maksimal 5 derajat, thank you very much. Parahnya tiap mau tidur malam, tak bisa karena kebanyakan vitamin C.. giliran bisa tidur, batuk! Gimana mau sembuh kalau ngga tidur??

Mau minum antibiotik dari 2 hari lalu, bimbang (hore... I use that word again in a sentence) soalnya batuk biasanya krn virus yg ngga bisa dibasmi oleh antibiotik. Jadi kalau flu dikasih antibiotik percuma, yg ada cuma bikin bakteri baik dibadan tewas aja. Lama² bisa bikin bakteri jadi resisten terhadap antibiotik. Kalau sampai kejadian, begitu sakit karena bakteri, sudah ngga ada yg bisa ampuh ngelawan. Pas phlegm-nya mulai kental & berwarna (biasanya ini tanda infeksi), temenku bilang minum aja 5 hari, tante Jul bilang 3 hari aja dulu, teman satu lagi bilang minum codeinfosfat aja (Shin, itu bukannya bikin phlegm ngga keluar?). ARGH.... I hate being sick.

Ini akibat kedinginan Jumat kemaren pas cari lunch. udah gitu sore² pas mampir di apotik on my way to the supermarket,krn ngeliat temen disitu, ada orang batuk ngga ditutup mulutnya! $%@#! Sampai Selasa daku ngga bisa ke rumah sakit, minta disumpahin tu orang.. nyebar virus seenaknya. Coba ya, pake etika sedikit biar sakit juga, kalau batuk tutup mulut. Kalau sakitnya setelah selasa depan aku ngga segini keselnya.

Please God, I want to, I need to, I must get well before next Tuesday. Please pretty please. Aku ngga nari deh nanti malam, demi selasa sembuh... padahal aku kangen nari:(

Pangeran Bernhard

Pangeran Bernhard meninggal semalam dalam usia 93th. Penguburannya di Delft hari Sabtu tanggal 11.

Pharmaceutical Parenting

I was site hoping, when I landed on this blog and read: better living through chemistry.
The story of that kid was tragic, yet so painfully true. I know lots of kids ended up literally being drugged by doctors.
I don’t know what 'normal' is this day. Prozac, Paxil, Ritalin, all are easy to get. Kids who have lots energy is now known as hyperactive and got Ritalin. Feeling a wee bit shy? Paxil is your answer. Down? Prozac is your rescue. University students use Ritalin instead of coffee to stay up. Some kids use paxil to feel better, whatever that is. Sadly you can find such practices not only in the US, but also in Indonesia! I know kids back home who (used to) take Ritalin in the morning, Prozac in the evening like some kind of miracle pills. And we are afraid they grow up and do drugs! Gee...

Don’t get me wrong, sometimes you NEED to take those pills. It really can help some people. But I think doctors tend to prescribe them way too easily. After one consultation session of 20-30 minutes, they give you something. My god, it's a child we are talking about. At least do anything you can before labeling & prescribing some powerful drug for them. And parents, they act as the child's proxy consent giver, it's their job to protect their kid. Get to know your kids, don't get panic just because others said this and that about your kids, search around & get inform (on pro and contra), ask questions, and, for the love of god, use your instinct! Don’t let your kids get parented by pharmaceutical.