Pria Belanda Tidak Bisa Flirting!

Belum lama ini diadakan survey via internet oleh perusahaan deodoran AXE mengenai bagaimana pria Belanda mendekati wanita. Dari 120 ribu responden, 60% diantaranya menggunakan taktik ala womanizer yang ngga ada matinya. Baru setelah menginjak usia 30 tahun mereka memulai pendekatan dengan obrolan yang menarik.
Boleh dibilang hasil survey ini sesuai dengan pengamatan Sophie Perrier, wartawan koran Prancis LibĂ©ration, dalam bukunya 'De mannen van Nederland' yang terbit empat tahun lalu. Menurut pengamatannya dan 36 narasumbernya yg terdiri dari 35 wanita asing dan 1 homo Spanyol, ada dua metode mendekati wanita yang dipakai oleh pria Belanda. Cara pertama, lambat. Mereka menggunakan networknya untuk mengenal wanita, kemudian secara hati² mencari tahu apakah wanita itu tertarik padanya. Baru setelah berlama-lama, mungkin ia akan mengajak wanita tersebut nge-date!
Cara yang cepat: Tempat kamu atau tempatku?
Menurut buku ini, pria Belanda penampilannya menarik, mereka tinggi, biasanya tidak terlalu kurus (karena kemana-mana naik sepeda kali), dan kebanyakan pirang. Selain itu mereka bisa dipercaya, reasonable dan biasanya mau turut serta mengurus rumah tangga. Tapi jangan mengharapkan passion maupun romantisme, mereka tidak punya itu. Kalau pergi date-pun siap² saja going dutch alias bayar sendiri-sendiri.
Bila tertarik dengan pria Belanda, maka bersiaplah aktif mendekati mereka. Bisa jadi ini akibat emansipasi di Kikkerland ini, pria amat menghargai wanita. Jadi jangan harap ada orang yang flirting dengan perempuan yang lewat. Kalaupun ini terjadi, dalam pengalaman saya pelakunya hampir pasti orang asing.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat gondok ketika sedang jalan sendiri di downtown, tau² ada orang yang seakan² memanggil² tapi tak jelas. Ketika saya liat, ternyata pria² Indonesia yang saya tidak kenal sedang kongkow. Idih, kayak tukang bangunan di Jawa! Masalahnya saya sudah biasa bertahun-tahun jalan sendiri tanpa ada yg siul², atau manggil² tidak jelas seperti yang sering terjadi di tanah air. Orang sini paling banter melirik di jalan, kalau sampai bilang "hai" itu sudah kemajuan banget dan ini pun biasanya dilakukan oleh mereka yang cenderung bekerja secara fisik. Jujur saja, awal tinggal disini rasanya aneh juga, sudah dandan cantik² rasanya ngga ada yang liat. Kalau di Amerika modal lipstick aja bisa ada orang flirting di jalan.
Kebiasaan ini rupanya juga membuat pria asing kadang serba salah. Bisa jadi saat memberikan pujian terhadap perempuan Belanda, pria itu dimaki sebagai sok macho. Pernah teman pria (bukan Belanda) saya berkomentar setelah uluran tangannya saya sambut ketika saya harus turun dari kereta, "Tumben tau". Sebetulnya hal itu adalah tindakan gentleman biasa untuk membantu menjaga keseimbangan, tapi rupanya menurut pengalamannya dengan perempuan Belanda, mereka seringkali menepisnya. Wanita Belanda terlalu emansipasi ujarnya.
Ada buku lain yang juga membahas tentang pria Belanda yang ditulis oleh Meghan dan Erin yang orang Amerika, judulnya 'How to Find a Man in Europe and Leave Him There'. Menurut mereka pria Belanda itu membosankan, tidak romantis, tidak tau passion dan tidak tau bagaimana memberi kado walau mereka itu berpendidikan tinggi, open-minded dan baik. Jadi lebih baik dijadikan sahabat daripada pacar.
Sekarang pilihannya ditangan anda, mau pacaran atau mau berteman dengan pria Belanda?




