Tuesday, August 16, 2005

Pria Belanda Tidak Bisa Flirting!

Xander de Buisonje & Mark van der Loo

Belum lama ini diadakan survey via internet oleh perusahaan deodoran AXE mengenai bagaimana pria Belanda mendekati wanita. Dari 120 ribu responden, 60% diantaranya menggunakan taktik ala womanizer yang ngga ada matinya. Baru setelah menginjak usia 30 tahun mereka memulai pendekatan dengan obrolan yang menarik.

Boleh dibilang hasil survey ini sesuai dengan pengamatan Sophie Perrier, wartawan koran Prancis LibĂ©ration, dalam bukunya 'De mannen van Nederland' yang terbit empat tahun lalu. Menurut pengamatannya dan 36 narasumbernya yg terdiri dari 35 wanita asing dan 1 homo Spanyol, ada dua metode mendekati wanita yang dipakai oleh pria Belanda. Cara pertama, lambat. Mereka menggunakan networknya untuk mengenal wanita, kemudian secara hati² mencari tahu apakah wanita itu tertarik padanya. Baru setelah berlama-lama, mungkin ia akan mengajak wanita tersebut nge-date!

Cara yang cepat: Tempat kamu atau tempatku?

Menurut buku ini, pria Belanda penampilannya menarik, mereka tinggi, biasanya tidak terlalu kurus (karena kemana-mana naik sepeda kali), dan kebanyakan pirang. Selain itu mereka bisa dipercaya, reasonable dan biasanya mau turut serta mengurus rumah tangga. Tapi jangan mengharapkan passion maupun romantisme, mereka tidak punya itu. Kalau pergi date-pun siap² saja going dutch alias bayar sendiri-sendiri.

Bila tertarik dengan pria Belanda, maka bersiaplah aktif mendekati mereka. Bisa jadi ini akibat emansipasi di Kikkerland ini, pria amat menghargai wanita. Jadi jangan harap ada orang yang flirting dengan perempuan yang lewat. Kalaupun ini terjadi, dalam pengalaman saya pelakunya hampir pasti orang asing.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat gondok ketika sedang jalan sendiri di downtown, tau² ada orang yang seakan² memanggil² tapi tak jelas. Ketika saya liat, ternyata pria² Indonesia yang saya tidak kenal sedang kongkow. Idih, kayak tukang bangunan di Jawa! Masalahnya saya sudah biasa bertahun-tahun jalan sendiri tanpa ada yg siul², atau manggil² tidak jelas seperti yang sering terjadi di tanah air. Orang sini paling banter melirik di jalan, kalau sampai bilang "hai" itu sudah kemajuan banget dan ini pun biasanya dilakukan oleh mereka yang cenderung bekerja secara fisik. Jujur saja, awal tinggal disini rasanya aneh juga, sudah dandan cantik² rasanya ngga ada yang liat. Kalau di Amerika modal lipstick aja bisa ada orang flirting di jalan.

Kebiasaan ini rupanya juga membuat pria asing kadang serba salah. Bisa jadi saat memberikan pujian terhadap perempuan Belanda, pria itu dimaki sebagai sok macho. Pernah teman pria (bukan Belanda) saya berkomentar setelah uluran tangannya saya sambut ketika saya harus turun dari kereta, "Tumben tau". Sebetulnya hal itu adalah tindakan gentleman biasa untuk membantu menjaga keseimbangan, tapi rupanya menurut pengalamannya dengan perempuan Belanda, mereka seringkali menepisnya. Wanita Belanda terlalu emansipasi ujarnya.

Ada buku lain yang juga membahas tentang pria Belanda yang ditulis oleh Meghan dan Erin yang orang Amerika, judulnya 'How to Find a Man in Europe and Leave Him There'. Menurut mereka pria Belanda itu membosankan, tidak romantis, tidak tau passion dan tidak tau bagaimana memberi kado walau mereka itu berpendidikan tinggi, open-minded dan baik. Jadi lebih baik dijadikan sahabat daripada pacar.

Sekarang pilihannya ditangan anda, mau pacaran atau mau berteman dengan pria Belanda?

Monday, August 15, 2005

XTC lokal vs import

xtc

Beberapa tahun yang lalu, ada kenalan yang bercerita tentang pengalamannya ketika liburan di Indonesia. Pada masa itu sedang trendnya memakai xtc, yang katanya salah satu sumbernya adalah Belanda.

Ketika kenalan saya ini, sebutlah si A, pulang kampung ke Menado, saudaranya bertanya apa dia membawa xtc. Biar bertahun-tahun tinggal di 'kandang'nya Xtc, tapi A ngga pernah memakainya, apalagi membawanya ke Indonesia. Tapi rupanya saudaranya tidak percaya.

Suatu hari mereka pergi ke disko bersama. Di sana saudaranya langsung sibuk godek² karena pengaruh xtc lokal. Setelah beberapa lama, A -sambil seperti biasa membawa botol aquanya- pergi ke toilet. Rupanya, botol aqua merupakan 'tanda' pemakai xtc. Maka tak lama kemudian ia didekati dealer xtc. Dasar A iseng, dibelinyalah beberapa butir xtc sebelum kembali ke lantai disko. Kemudian, pil² itu diberikan ke saudaranya yang menerimanya dengan antusias.

Tak lama setelah 'menikmati' pil dari A, saudaranya komentar,"Memang beda ya xtc dari Belanda dengan yang lokal".


ps: Kenapa ya kalau di Indonesia efeknya orang jadi godek²? Sementara disini bisa macam², ada yg nyanyi, ada yg goyang abis. Apa tergantung persepsi yang memakai ya??
pps: sekarang sudah beredar xtc liquid yang sudah memakan korban paling tidak 1 orang mati di Ibiza.

Sunday, August 14, 2005

Narkoba di Belanda

kanabis


Belanda cukup terkenal dengan drug policy-nya yang lumayan relaks dibanding negara lain. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa bila suatu masalah tidak dapat dihentikan, maka sebaiknya masalah itu dikontrol karena sudah jelas tidak mungkin menghentikannya. Selain itu di negara yang menjunjung tinggi kebebasan individu ini, penggunaan narkoba dianggap sebagai pilihan pribadi selama tidak merugikan orang lain. Jadi sah² saja bila ingin merusak diri sendiri, tapi tetap harus bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya.

Dalam peraturan narkoba yang berlaku sejak tahun 1976 ini, pemakaian narkoba dianggap sebagai masalah kesehatan - bukan kriminal, dan dilakukan pemisahan antara hard drugs (heroin, kokain, XTC, LSD) dan soft drugs (hashish dan mariyuana) yang didasari oleh perbedaan tingkat ketagihannya (psikologis vs. fisik). Pemisahan ini dilakukan untuk mencegah mereka yang ingin mengkonsumsi soft drugs untuk terlibat hard drugs yang ilegal, sehingga kriminalitas diharapkan menurun.

Bila hard drugs itu ilegal, maka softdrugs ditolerir atau berlaku yang namanya gedoogbeleid. Jadi, pemilikan 30gr soft drugs untuk konsumsi pribadi bukanlah tindak kriminal di negara ini, begitu juga pemilikan 5 pohon kanabis per orang. Tapi penjualan wholesale, eksport-import serta produksi soft drugs tetap merupakan hal yang melanggar hukum.

Untuk mendapatkan ganja amatlah mudah, cukup pergi ke coffeeshop yang bertebaran dimana-mana. Coffeshop ini bukan cafe biasa, tapi tempat dimana orang dapat menjual softdrugs secara legal. Darimana mereka memperoleh dagangannya itu urusan lain lagi. Selama soft drugs dikonsumsi disana dan tidak mengganggu orang, biasanya tidak ada masalah. Tapi bila akibat konsumsi itu kita melakukan pelanggaran hukum, sama seperti bila orang menabrak karena pengaruh alkohol, tentu saja dikenai ganjarannya.

Coffeeshop sendiri harus mengikuti aturan bila masih mau beroperasi. Mereka tidak boleh mengiklankan barang yang dijual, tidak menjual hard drugs, tidak menimbulkan keonaran, tidak menjual ke anak dibawah 18 tahun, serta tidak menjual dalam jumlah yang besar.

Selain coffeshop, ada juga tempat distribusi narkoba, dimana baik hard drugs maupun soft drugs dijual yang dibawah pengawasan polisi setempat seperti di Gereja Pauluskerk di Rotterdam yang menampung pecandu narkoba dimalam hari.

Peraturan Narkoba Belanda yang lain daripada yang lain ini sering kali dijadikan kambing hitam bila berhubungan dengan drug tourism, terutama oleh pemerintah Prancis, Belgia serta Jerman. Fenomena ini biasanya terjadi diakhir minggu, dimana turis dari negara² di sekitar Belanda berkunjung ke Belanda untuk membeli Narkoba. Seringkali mereka mencuri kendaraan di negara asal untuk pergi ke Belanda. Sesampainya di tujuan pun biasanya mereka juga membuat onar.

Sebetulnya, kalau mau jujur, efek peraturan ini tidak membuat semua orang Belanda jadi mengkonsumsi narkoba. Baik jumlah kejahatan yang berkaitan dengan narkoba (pencurian, pembunuhan), maupun jumlah pecandu narkoba jauh lebih sedikit di Belanda dibandingkan di negara yang melarang adanya narkoba. Jumlah penderita HIV yang berhubungan dengan pemakaian narkoba juga lebih sedikit, begitu juga jumlah kematian karena overdosis.

Saturday, August 13, 2005

Permintaan Maaf Belanda

Handshake

Setiap tahun di bulan Agustus pasti banyak media yang mengulas tentang sekitar hari Kemerdekaan Indonesia. Hari ini adalah kali ke-tiga saya membaca berita tentang 'permintaan maaf Belanda terhadap Indonesia'. Pertama kali tahun 1995 ketika Ratu Beatrix berkunjung ke Indonesia. Saat itu Ratu ingin mengajukan permintaan maaf atas politionele acties yang dilakukan Belanda antara tahun 1945 dan 1949. Tapi PM Belanda saat itu, Wim Kok, melarangnya karena takut akan ada protes dari veteran Belanda.

Kemudian saya mendengar Gus Dur ketika masih menjadi Presiden RI berujar bahwa permintaan maaf itu tidak perlu.

Berita hari ini dimuat di koran De Telegraaf, isinya pernyataan Mentri Luar Negeri Hassan Wirajuda bahwa pemerintah Indonesia tidak pernah meminta permintaan maaf. Menurutnya hal ini bukanlah subjek yang penting di Indonesia. Katanya tidak banyak orang Indonesia yang mempermasalahkan masalah ini.

Saya sendiri tidak merasa perlu, tapi karena praktis seringkali saya mendengar ucapan orang bahwa Belanda tidak pernah meminta maaf, saya jadi berpikir mungkin tidak ada salahnya mereka minta maaf. Biarpun kita tidak pernah meminta, apa salahnya sih menerima permintaan maaf orang? Mungkin dengan itu bangsa Indonesia jadi lebih percaya diri, tidak seperti sekarang yang menurut saya seringkali masih seperti bangsa yang terjajah, entah oleh siapa.

ps: Tahun ini untuk pertama kalinya ada wakil pemerintah Belanda hadir dalam perayaan 17 Agustus di Indonesia. Mentri Luar Negeri Ben Bot sendiri 60 tahun yang lalu berada di Jakarta, di kamp Internering (wanita dan anak²) Cideng.

Thursday, August 04, 2005

Hijau telur bebek

Telur asin

+ Tadi masih ngecat?
- Nope, udah kelar dari kemarin dan aku suka warnanya yang aku campur sendiri
+ Jadi warnanya apa? Biru?
- Hmm, kayak ice cream mint
+ Ijo?
- Ngga juga sih, rada biru
+ Merah? *sambil ketawa jail*
- Kog merah sih?? Itu lho.. kayak telur bebek
+ Hahahahahaha, this is the first time we have cultural differences, aku ngga tau warna telur bebek itu kayak apa
- Ya kan kamu suka ngeliatin bebek, masa ngga pernah liat telurnya?
+ uh uh, ngga pernah ada bebek bertelur di depan ku
- Ya udah, nanti kalau liat dindingku kamu tau warna telur bebek :)

update: setelah diliat menurutnya itu warna namanya 'duck blue', serah deh mau dikasih judul apa